DENPASAR | Infolpdbali.com — Di tengah dinamika industri perbankan dan berbagai faktor eksternal yang terus berkembang, Bank BPD Bali memperkuat sinergi bersama para pemegang saham untuk memastikan pertumbuhan bisnis tetap terjaga sekaligus memperkokoh fundamental perseroan.
Langkah strategis tersebut dibahas dalam rapat bersama pemegang saham yang berlangsung di Kantor Pusat Bank BPD Bali, Denpasar, 9 September 2026. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi manajemen dan pemerintah daerah selaku pemegang saham untuk mengevaluasi kinerja sekaligus membahas berbagai isu strategis yang berpotensi memengaruhi arah bisnis perbankan ke depan.
Rapat difokuskan pada pemaparan kinerja Bank BPD Bali hingga Agustus 2026, evaluasi kondisi industri perbankan, serta pembahasan strategi dan kebijakan pengembangan bisnis. Sinergi antara manajemen dan pemegang saham dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga pertumbuhan bank sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian Bali.
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan arahan strategis yang diberikan Gubernur Bali bersama seluruh pimpinan daerah selaku pemegang saham.
«“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan arahan strategis dari Bapak Gubernur beserta seluruh pimpinan daerah selaku pemegang saham. Diskusi dan masukan dalam rapat hari ini menjadi pedoman penting bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat fondasi bisnis Bank BPD Bali agar lebih adaptif dalam menghadapi dinamika ekonomi ke depan,” ujar Sudharma.»
Aset Tumbuh 6,05 Persen
Sinergi yang terus diperkuat tersebut berjalan seiring dengan kinerja positif Bank BPD Bali. Hingga Agustus 2026, total aset perseroan tercatat mencapai Rp44,164 triliun, tumbuh 6,05 persen secara tahunan (y-o-y) dan telah melampaui target yang ditetapkan.
Dari sisi permodalan, Bank BPD Bali juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Modal inti meningkat 21,08 persen y-o-y menjadi Rp6,253 triliun. Kondisi tersebut turut menopang ketahanan bank dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 30,59 persen.
Penguatan fundamental tersebut menjadi modal penting bagi Bank BPD Bali dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi dan dinamika industri perbankan yang semakin kompetitif.
Kepercayaan Masyarakat Tetap Kuat
Kinerja positif juga tercermin dari kemampuan Bank BPD Bali menghimpun dana masyarakat. Hingga Agustus 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp36,317 triliun, tumbuh 4,00 persen y-o-y.
Komposisi dana murah juga terus diperkuat. Giro tercatat tumbuh 13,65 persen, sementara pertumbuhan tabungan tetap terjaga. Kondisi tersebut mendorong rasio CASA (Current Account Saving Account) mencapai 66,47 persen.
Dari sisi efisiensi, Bank BPD Bali juga mencatatkan kinerja yang solid dengan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 59,29 persen.
Efisiensi tersebut kemudian berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas perseroan. Hingga Agustus 2026, Bank BPD Bali membukukan laba sebesar Rp945 miliar, tumbuh 8,14 persen y-o-y.
Berdasarkan Laporan Publikasi Keuangan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2026, Bank BPD Bali juga tercatat sebagai bank dengan laba terbesar peringkat kedua di antara 10 Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia, dengan posisi aset yang masuk dalam jajaran enam besar.
Kredit Tumbuh, UMKM Jadi Motor Penggerak
Di tengah upaya menjaga fundamental keuangan, Bank BPD Bali tetap menjalankan fungsi intermediasi dengan mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif.
Hingga Agustus 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp26,201 triliun, tumbuh 7,03 persen y-o-y.
Yang menarik, kredit untuk sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh lebih tinggi, yakni 14,52 persen y-o-y, dengan total penyaluran mencapai Rp14,154 triliun.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan komitmen Bank BPD Bali dalam memperkuat peran sebagai lembaga keuangan daerah yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.
Komposisi kredit produktif kini mencapai 62,39 persen dari total portofolio kredit. Penyaluran kredit modal kerja dan investasi yang melampaui target menjadi bagian dari strategi Bank BPD Bali dalam mendorong pelaku usaha lokal agar mampu memperluas usaha, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pertumbuhan Kredit Tetap Berbasis Kehati-hatian
Pertumbuhan kredit tersebut tetap dibarengi dengan penerapan prinsip kehati-hatian. Bank BPD Bali mampu menjaga kualitas kredit dengan Non-Performing Loan (NPL) Gross sebesar 1,03 persen.
Sementara itu, rasio Loan at Risk (LaR) berada pada level 3,30 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit dilakukan dengan tetap memperhatikan kualitas aset dan pengelolaan risiko.
Perkuat Fondasi, Hadapi Tantangan ke Depan
Pertemuan antara manajemen dan pemegang saham menjadi penegasan bahwa pertumbuhan Bank BPD Bali tidak hanya bertumpu pada capaian angka, tetapi juga pada kekuatan sinergi antara perseroan dan pemerintah daerah.
Di tengah perubahan kondisi ekonomi, persaingan industri perbankan, serta berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi dunia usaha, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan Bank BPD Bali ke depan.
Dengan fundamental keuangan yang semakin kuat, permodalan yang sehat, efisiensi yang terjaga, pertumbuhan kredit yang positif, serta dukungan pemegang saham, Bank BPD Bali menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menggerakkan perekonomian Bali.
Bank BPD Bali juga terus menyediakan akses informasi mengenai produk dan layanan melalui situs resmi perseroan www.bpdbali.co.id. Nasabah dan masyarakat dapat berinteraksi melalui kanal media sosial resmi Bank BPD Bali di Instagram, Facebook, TikTok, X, dan YouTube.
Untuk layanan bantuan langsung, masyarakat dapat menghubungi BPD Bali Call 1500-844.
Bank BPD Bali merupakan lembaga keuangan yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
(Tim Newsyess)