Pernah Jadi IKON Desa Sekardadai Bunga Beludru, Kini Berpeluang Bangkitkan lagi  Jadi Daya Tarik Wisata Desa

 

BANGLI | Infolpdbali.com — Ada kekayaan desa yang terkadang tidak perlu didatangkan dari tempat jauh. Ia tumbuh dari tanah sendiri, pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, lalu perlahan menghilang dari pandangan. Salah satunya adalah bunga beludru yang dahulu menghiasi kawasan Desa Sekardadi, Kabupaten Bangli.

Bunga berwarna merah menyala yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai bunga beludru atau bunga kedepan, dan kerap disebut wisatawan sebagai bunga christmas, memiliki potensi untuk kembali dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata berbasis desa.

Tanaman yang dimaksud merupakan kastuba atau poinsettia (Euphorbia pulcherrima). Warna merah mencolok yang tampak seperti mahkota bunga sebenarnya merupakan braktea, yakni daun pelindung yang berubah warna, sementara bunga aslinya berukuran kecil dan berada di bagian tengah.

Potensi tersebut disampaikan salah seorang tokoh masyarakat sekaligus warga Desa Sekardadi, I Wayan Dana, yang akrab disapa Nangna, saat ditemui Newsyess.com, Selasa (29/9/2026), di Desa Sekardadi, Bangli.

Menurut Wayan Dana, bunga beludru pernah cukup populer di Sekardadi sekitar tahun 2000-an. Pada masa itu, tanaman tersebut banyak tumbuh di sepanjang jalan desa dan menjadi pemandangan yang menarik perhatian orang yang melintas.

“Sekitar tahun 2000-an itu pernah ramai. Sepanjang jalan di Desa Sekardadi banyak bunga beludru, terutama di pinggir-pinggir jalan,” kenangnya.

Keberadaan bunga tersebut, kata dia, bahkan mampu menarik perhatian wisatawan yang datang ke Sekardadi. Tidak sedikit tamu yang berhenti untuk sekadar menikmati pemandangan maupun mengabadikan keindahan bunga berwarna merah tersebut.

Berbunga Saat Musim Kemarau

Keunikan bunga beludru di Sekardadi salah satunya terletak pada kemunculan warna merahnya yang lebih menonjol pada musim kemarau.

Wayan Dana mengatakan, tanaman tersebut biasanya mulai menarik perhatian ketika memasuki musim panas, terutama sekitar Juni, Juli hingga Agustus. Sementara pada musim penghujan, tanaman lebih banyak menumbuhkan daun dan berkembang secara vegetatif.

READ  Pesan Made Arya Amitaba bahwa Surga Akan Memilih Orang yang Berani, Ketika Kebenaran Membutuhkan Seseorang untuk Berdiri

“Kalau musim panas, biasanya bunganya muncul. Sekitar Juni, Juli, Agustus itu bagus. Kalau musim hujan lebih banyak tumbuh daunnya,” jelasnya.

Kondisi tersebut menurutnya justru dapat menjadi kalender alami bagi wisata desa. Jika ditata dan dikembangkan secara serius, musim mekarnya bunga dapat menjadi momentum untuk mendatangkan wisatawan ke Sekardadi.

Apalagi, pemandangan bunga merah yang tumbuh di sepanjang jalan desa akan memberikan karakter tersendiri bagi kawasan tersebut.

“Kalau ada tamu, banyak yang berhenti untuk foto-foto. Dulu di depan rumah saya juga ada, tetapi sekarang sudah dibuka karena kebutuhan bangunan. Namun kalau ada bunga seperti itu, wisatawan memang tertarik untuk berfoto,” tuturnya.

Ditanam di Sepanjang Jalan Desa

Wayan Dana menilai Desa Sekardadi masih memiliki peluang besar untuk menghidupkan kembali bunga beludru sebagai bagian dari penataan lingkungan sekaligus pengembangan desa wisata di kabupaten Bangli

Menurutnya, tanaman tersebut tidak harus ditempatkan di satu lokasi khusus. Justru penanaman di sepanjang jalan desa dapat menjadi daya tarik yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.

“Menurut saya sangat cocok dikembangkan. Kalau bisa ditanam lagi di pinggir jalan, atau di sepanjang Telajakan sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Di pekarangan rumah masyarakat juga bisa ditanam,” katanya.

Saat ini, keberadaan bunga beludru di sepanjang jalan Sekardadi memang sudah jauh berkurang dibandingkan masa lalu. Sebagian lahan telah berubah fungsi menjadi rumah maupun tempat usaha masyarakat.

Karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk mengembalikan tanaman tersebut secara bertahap, terutama pada lahan-lahan yang memungkinkan.

Menariknya, Wayan Nangna menyebut tanaman tersebut relatif mudah diperbanyak. Pengembangbiakannya dapat dilakukan melalui stek batang.

“Tidak terlalu sulit. Bisa dengan stek. Dipotong, kemudian dikeringkan sebentar, lalu ditanam,” ujarnya.

READ  Ketika Purnama, Pulang pada Damai: dan Dharma Menjadi Cahaya di Tengah Riuh Dunia Digital

Bisa Jadi Alternatif Pendapatan Desa

Lebih jauh, Wayan Dana melihat pengembangan bunga beludru bukan sekadar persoalan mempercantik lingkungan. Jika dilakukan secara terencana, keberadaan bunga tersebut dapat diarahkan menjadi bagian dari pengembangan pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Menurutnya, desa dapat menjadikan keunikan lokal tersebut sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan, terlebih jika dikembangkan bersama dengan potensi wisata lainnya.

“Bunga beludru ini bisa dijadikan sumber pendapatan. Kita kembangkan menuju ke arah pariwisata,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah desa, masyarakat, serta pihak terkait dapat melihat kembali potensi yang pernah dimiliki Sekardadi tersebut.

Tidak harus langsung dalam skala besar. Penanaman dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari kawasan jalan desa, pekarangan warga, hingga titik-titik yang menjadi jalur atau lokasi yang sering dilalui wisatawan.

Dengan demikian, ketika memasuki musim kemarau, Sekardadi dapat memiliki sebuah panorama khas: jalan desa yang dihiasi warna merah bunga beludru.

Kebersihan dan Penataan Desa Jadi Kunci

Selain tanaman, Wayan Dana menilai pengembangan wisata desa tidak dapat dipisahkan dari kebersihan dan penataan lingkungan.

Jalan desa yang tertata, bersih dan nyaman akan memperkuat daya tarik bunga beludru. Karena itu, masyarakat perlu berjalan bersama menjaga kebersihan kawasan, terutama sepanjang jalan yang nantinya menjadi jalur wisata.

“Disamping menjaga dan menata desa supaya bagus, kebersihan juga harus ditingkatkan. Area jalan-jalan harus tetap bersih,” harapnya.

Menurut dia, bunga beludru akan lebih indah jika berpadu dengan jalan desa yang tertata dan lingkungan yang bersih. Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bunga, tetapi juga menikmati suasana pedesaan Sekardadi.

Menghidupkan Kembali Memori Lama

Bagi Nangna , mengembangkan kembali bunga beludru bukan sekadar menanam tanaman. Ada memori tentang Sekardadi masa lalu yang ingin dihidupkan kembali.

READ  Ketua LPLPD Bali Tegaskan Pentingnya Blue Print LPD: Perkuat Peran Desa Adat dan Daya Saing Usaha

Sekitar dua dekade lalu, bunga merah tersebut pernah menjadi bagian dari wajah desa. Kini, ketika potensi wisata berbasis alam dan keunikan lokal semakin mendapat perhatian, bunga beludru dapat menjadi salah satu identitas yang membedakan Sekardadi dengan desa lainnya.

Jika masyarakat dan pemerintah desa memiliki visi yang sama, bukan tidak mungkin bunga yang pernah menghiasi jalan-jalan Sekardadi itu kembali bermekaran.

Bukan sekadar merah di antara hijaunya pepohonan, tetapi menjadi warna baru bagi pariwisata desa—sebuah potensi yang tumbuh dari halaman sendiri, dirawat bersama, dan kelak diharapkan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

“Dulu sudah pernah ada. Sekarang tinggal bagaimana kita bersama-sama mengembangkannya kembali,” pungkas Wayan Dana. (Tim Newsyess)

Berita Terbaru

Redaksi Newsyess Apresiasi kepedulian  Monack Gianyar Bali, Ulurkan Kepedulian untuk 6 Anak Asuh Redaksi Newsyess.

PT BPR Mitra Bali Artha Mandiri Karangasem  Edukasi Pelajar SMPN 3 Amlapura, Tanamkan Kesadaran Mengelola Keuangan Sejak Dini 

Terus peduli Newsyess Berbagi Bersama Koperasi Agung Mandiri, Empat Bersaudara Yatim Piatu di Blahbatuh Terus Mendapat Pendampingan

BPR Mitra Bali Muktijaya Mendiri Dekatkan Layanan Perbankan ke Masyarakat Lewat Edukasi  ke Warga di Pasar Singamadawa Kintamani 

Dirut BPR Mitra Bali Artha Mandiri Dorong DPP PERBARINDO Pusat  perjuangan Relaksasi  AYDA dan Modal Inti Rp 6 Miliar