SUGIH ULIAN TIMPAL”, KAYA KARENA TEMAN; I MADE ARYA AMITABA  Bukan Banyak yang Mengikuti, tetapi Sedikit yang Berani Berjalan di Samping

 

“Bali | Infolpdbali.com — Ada filosofi sederhana namun dalam yang melekat pada sosok I Made Arya Amitaba, Direktur Utama PT Bank BPR Kanti: “Sugih Ulian Timpal — kaya karena teman.”

Bagi Arya Amitaba, kekayaan tidak selalu berbicara tentang angka, jabatan, aset, maupun pencapaian. Ada kekayaan yang jauh lebih bermakna dalam perjalanan seorang manusia, terlebih seorang pemimpin yakni ketika di sekelilingnya terdapat orang-orang yang bukan hanya hadir untuk menikmati keberhasilan, tetapi juga berani berjalan bersama dalam menghadapi tantangan.

Filosofi itu kemudian dirangkai dalam sebuah pesan yang sangat kuat:

“Jangan bangga karena banyak orang berjalan di belakangmu. Bersyukurlah bila ada sedikit teman-KANTI yang berani berjalan di sampingmu, mengangkatmu ketika jatuh, dan menarikmu kembali ketika langkahmu mulai menjauh dari kebenaran.”

Pesan tersebut menggambarkan cara pandang Arya Amitaba mengenai makna Kanti—teman, sahabat, sekaligus mereka yang menjadi bagian dari perjalanan.

Tidak Semua yang Mengikuti adalah Teman

Dalam perjalanan kehidupan dan kepemimpinan, seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang.

Namun, banyaknya orang yang berada di belakang belum tentu menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.

Justru, menurut filosofi tersebut, yang paling berharga adalah mereka yang memilih berada di samping.

Mereka yang tidak hanya mengatakan “iya” ketika seorang pemimpin mengambil keputusan.

Mereka yang berani menyampaikan pandangan berbeda.

Mereka yang tidak takut mengingatkan ketika ada sesuatu yang mulai keluar dari jalur.

Dan yang paling penting, mereka yang tetap hadir ketika situasi tidak lagi mudah.

Di situlah makna “Sugih Ulian Timpal” menemukan kedalamannya.

Kaya karena memiliki teman yang tulus.

Bukan teman yang hadir karena posisi.

Bukan pula teman yang datang karena kepentingan.

Tetapi teman yang mampu menjadi cermin—terkadang memuji ketika memang layak diapresiasi, tetapi juga berani mengingatkan ketika ada yang harus diperbaiki.

READ  PT BPR Kanti sangat Kehilangan Pendiri Utama I Ketut Sudama Berpulang, Amitaba: Jejaknya Tak Akan Pernah Hilang

Pemimpin Tidak Selalu Harus Berjalan di Depan

Bagi seorang pemimpin, berada paling depan sering kali dianggap sebagai simbol kekuatan.

Namun, filosofi yang dibawa Arya Amitaba justru memberikan perspektif berbeda.

Pemimpin tidak harus selalu berjalan sendirian di depan.

Ada saatnya ia membutuhkan orang-orang yang berjalan di sampingnya.

Ada saatnya ia membutuhkan tangan yang membantu ketika terjatuh.

Dan ada saatnya ia membutuhkan suara yang cukup berani untuk mengatakan, “Jangan ke sana, itu bukan jalan yang benar.”

Dalam konteks organisasi, filosofi ini menjadi penting.

Sebuah lembaga tidak akan tumbuh hanya karena satu sosok. Di belakang setiap keberhasilan ada kerja tim, kepercayaan, loyalitas, kritik, dukungan dan kebersamaan.

Karena itu, keberhasilan seorang pemimpin sesungguhnya tidak hanya terlihat dari seberapa tinggi ia mampu membawa organisasi, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang tumbuh bersamanya.

Arya Amitaba dan Kekuatan Kebersamaan

Sebagai Direktur Utama PT Bank BPR Kanti, Arya Amitaba berada dalam ruang kepemimpinan yang menuntut bukan hanya kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan.

Dunia perbankan berbicara tentang angka, pertumbuhan, kepercayaan dan keberlanjutan. Namun di balik semuanya terdapat manusia.

Ada karyawan.

Ada nasabah.

Ada mitra.

Ada masyarakat.

Ada pemegang kepentingan.

Dan ada teman-teman seperjalanan yang bersama-sama menjaga agar sebuah lembaga tetap berada di jalurnya.

Dalam perspektif itulah filosofi “Sugih Ulian Timpal” menjadi relevan.

Sebab, bank bukan hanya tempat bertemunya uang dan transaksi. Ada hubungan kepercayaan yang harus dirawat.

Dan kepercayaan, pada akhirnya, tumbuh dari hubungan antarmanusia.

Kanti yang Berani Mengangkat dan Mengingatkan

Ada dua kata kunci yang sangat kuat dalam pesan Arya Amitaba: mengangkat ketika jatuh dan menarik kembali ketika menjauh dari kebenaran.

READ  Ketika Purnama, Pulang pada Damai: dan Dharma Menjadi Cahaya di Tengah Riuh Dunia Digital

Mengangkat berarti tidak membiarkan seorang teman terpuruk sendirian.

Sementara menarik kembali berarti memiliki keberanian untuk menyelamatkan seorang teman dari langkah yang keliru.

Keduanya membutuhkan ketulusan.

Sebab tidak semua orang berani melakukan itu.

Lebih mudah menjadi teman yang selalu membenarkan.

Lebih mudah memberikan pujian.

Lebih mudah berdiri di belakang ketika semuanya berjalan baik.

Tetapi menjadi teman yang berani berkata benar, bahkan ketika kebenaran itu tidak menyenangkan, membutuhkan keberanian dan kepedulian yang jauh lebih besar.

Itulah Kanti yang sesungguhnya.

Kaya yang Tidak Bisa Dihitung dengan Rupiah

“Sugih Ulian Timpal” akhirnya menjadi sebuah refleksi bahwa kekayaan manusia tidak selalu dapat dihitung dengan rupiah.

Ada kekayaan berupa kepercayaan.

Ada kekayaan berupa persahabatan.

Ada kekayaan berupa orang-orang yang tetap berada di sisi kita ketika keadaan berubah.

Dan bagi seorang pemimpin, mungkin inilah salah satu bentuk kekayaan terbesar: memiliki orang-orang yang tidak hanya mengikuti perintah, tetapi memiliki keberanian untuk bersama-sama menjaga arah perjalanan.

Karena perjalanan yang panjang tidak pernah benar-benar tentang siapa yang paling cepat sampai.

Tetapi tentang siapa yang tetap berjalan bersama ketika perjalanan itu mulai terasa berat.

Sedikit Teman, Tetapi Benar-Benar Kanti

Pesan I Made Arya Amitaba tersebut pada akhirnya bukan sekadar ungkapan motivasi.

Ia adalah pengingat bahwa dalam kehidupan, kualitas pertemanan jauh lebih penting daripada jumlah orang yang berada di sekitar kita.

Tidak perlu terlalu bangga ketika banyak orang berjalan di belakang.

Sebab, ketika seseorang jatuh, belum tentu semuanya datang mengangkat.

Ketika seseorang salah langkah, belum tentu ada yang berani mengingatkan.

Tetapi jika ada beberapa orang yang tetap berjalan di samping, siap mengulurkan tangan dan berani mengatakan kebenaran, maka sesungguhnya seseorang telah memiliki kekayaan yang luar biasa.

READ  Dari Gubug untuk Indonesia: Merta Jiwa Dorong Generasi Muda Bijak Bermedsos, Jaga Adat dan NKRI

“Sugih Ulian Timpal.”

Kaya karena teman.

Dan bagi I Made Arya Amitaba, mungkin makna terdalam dari menjadi Kanti bukan sekadar berjalan bersama, tetapi memastikan bahwa perjalanan itu tetap berada di jalan yang benar—bersama, saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling menjaga.

Sebab pada akhirnya, pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang berdiri sendirian di puncak, melainkan mereka yang mampu membuat orang-orang di sampingnya ikut tumbuh dan tetap berjalan bersama. (Tim Newsyess)

Berita Terbaru

Redaksi Newsyess Apresiasi kepedulian  Monack Gianyar Bali, Ulurkan Kepedulian untuk 6 Anak Asuh Redaksi Newsyess.

PT BPR Mitra Bali Artha Mandiri Karangasem  Edukasi Pelajar SMPN 3 Amlapura, Tanamkan Kesadaran Mengelola Keuangan Sejak Dini 

Terus peduli Newsyess Berbagi Bersama Koperasi Agung Mandiri, Empat Bersaudara Yatim Piatu di Blahbatuh Terus Mendapat Pendampingan

BPR Mitra Bali Muktijaya Mendiri Dekatkan Layanan Perbankan ke Masyarakat Lewat Edukasi  ke Warga di Pasar Singamadawa Kintamani 

Dirut BPR Mitra Bali Artha Mandiri Dorong DPP PERBARINDO Pusat  perjuangan Relaksasi  AYDA dan Modal Inti Rp 6 Miliar