Refleksi Teologi Hindu Kontemporer tentang Bhuwana Agung, Bhuwana Alit, Pengetahuan, Ekonomi, dan Kesadaran Dharma

 

Oleh: Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, manusia dihadapkan pada pergulatan yang tidak sederhana. Harga kebutuhan hidup terus menjadi perhatian, persaingan mencari pekerjaan semakin ketat, tuntutan pendidikan meningkat, sementara ukuran keberhasilan kerap dipersempit menjadi persoalan penghasilan, kekayaan, jabatan, dan pengakuan sosial.

Dalam situasi seperti ini, manusia tidak hanya membutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup, tetapi juga kebijaksanaan agar tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Di sinilah Hari Suci Pagerwesi menemukan relevansinya. Pagerwesi bukan semata-mata momentum untuk memperkuat hubungan spiritual melalui persembahyangan, melainkan juga kesempatan untuk merenungkan kembali bagaimana manusia menjaga pengetahuan, pikiran, hati, dan perilakunya agar tetap berada di jalan Dharma.

Sebab, di tengah kerasnya kehidupan, ada satu pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: ketika kita begitu sibuk membangun kekuatan ekonomi untuk melindungi masa depan, siapa yang menjaga pikiran kita agar tidak tersesat dalam mengejar kehidupan?

Pagerwesi dan Makna Pagar bagi Kehidupan Manusia

Setiap Hari Suci Pagerwesi, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, Guru Jagat Raya yang menjadi sumber tuntunan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

“Budha Kliwon Shinta ngaran Pagerwesi, payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwa tumuwuh ring bhuana kabeh.”

Secara umum, petikan tersebut menjelaskan bahwa Rabu Kliwon Sinta merupakan Hari Suci Pagerwesi, saat pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pertumbuhan segala kehidupan di alam semesta.

Secara filosofis, Pagerwesi mengandung makna perlindungan dan keteguhan. Pagar besi menjadi simbol kekuatan yang menjaga sesuatu yang berharga agar tidak mudah dirusak oleh ancaman dari luar.

Namun, makna perlindungan itu sesungguhnya dapat direnungkan lebih jauh. Jika Bhuwana Agung, alam semesta beserta segala isinya, perlu dijaga keseimbangan dan keharmonisannya, bagaimana dengan Bhuwana Alit, alam kecil dalam diri manusia?

Bagaimana kita menjaga pikiran dari kebencian, hati dari keserakahan, perkataan dari kebohongan, dan tindakan dari perilaku yang merugikan sesama?

Jangan sampai manusia begitu tekun membangun pagar dalam kehidupan ritual, tetapi lupa memperkuat pagar kebijaksanaan di dalam dirinya. Jangan sampai kita berbicara tentang kesucian, tetapi membiarkan pikiran dipenuhi iri hati, ketidakjujuran, kesombongan, dan ketidakpedulian.

Tentu, ritual dan kehidupan sehari-hari bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Upacara merupakan bagian penting dari penghayatan agama Hindu. Namun, nilai-nilai yang dihayati dalam ritual juga perlu menemukan perwujudannya dalam perilaku nyata.

Kesucian persembahyangan sepatutnya berjalan beriringan dengan kesucian pikiran. Penghormatan kepada Tuhan hendaknya menumbuhkan penghormatan kepada kehidupan. Dan keyakinan kepada Dharma semestinya tercermin dalam cara manusia bekerja, berbicara, mengambil keputusan, serta memperlakukan sesamanya.

Pada akhirnya, salah satu ukuran penting keberagamaan bukan hanya bagaimana seseorang menjalankan ritual, tetapi juga sejauh mana nilai-nilai agama hidup dalam kesehariannya.

Ketika Ekonomi Menuntut Kita Bertahan Hidup

In this economy, menjalani kehidupan memang bukan perkara mudah.

Ada orang tua yang bekerja keras agar anak-anaknya tetap dapat bersekolah. Ada generasi muda yang mengirimkan lamaran pekerjaan demi memperoleh kesempatan. Ada pelaku usaha kecil yang berjuang mempertahankan usahanya dengan modal terbatas. Ada pula keluarga yang harus mengatur penghasilan dengan cermat agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.

Di sisi lain, perkembangan media sosial menghadirkan tantangan tersendiri. Kehidupan manusia semakin mudah dibandingkan melalui tampilan yang sering kali hanya memperlihatkan sisi terbaik seseorang. Mobil yang digunakan, tempat yang dikunjungi, pakaian yang dikenakan, hingga pencapaian finansial menjadi bahan perbandingan yang tidak jarang menimbulkan perasaan tertinggal.

Kita pun hidup dalam budaya yang kerap bertanya: berapa penghasilanmu, apa pekerjaanmu, berapa banyak asetmu, dan seberapa tinggi pencapaianmu?

Pertanyaan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Kemandirian ekonomi memang penting. Setiap manusia membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun masa depan, dan membantu keluarga.

Namun, persoalannya muncul ketika keberhasilan hanya diukur melalui apa yang dimiliki, bukan melalui bagaimana kekayaan itu diperoleh dan untuk apa kekayaan tersebut digunakan.

Dalam ajaran Hindu, Artha merupakan salah satu tujuan kehidupan dalam Catur Purusa Artha, bersama Dharma, Kama, dan Moksha. Artha berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan material dan kesejahteraan, sedangkan Dharma menjadi landasan moral yang menuntun manusia dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, mencari penghasilan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan spiritualitas. Membangun usaha, meningkatkan keterampilan, mengembangkan karier, dan memperbaiki kondisi ekonomi merupakan bagian dari ikhtiar manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Yang perlu dijaga adalah cara mencapainya.

Jangan sampai demi memperoleh keuntungan, seseorang mengorbankan kejujuran. Jangan sampai demi mengejar jabatan, seseorang merendahkan martabat orang lain. Jangan sampai demi memenuhi keinginan, manusia terjerat utang yang tidak terukur atau mengambil jalan yang bertentangan dengan nilai moral.

Kekayaan yang diperoleh melalui jalan yang benar dapat menjadi sarana untuk membangun kesejahteraan, membantu keluarga, membuka kesempatan kerja, dan menolong sesama. Sebaliknya, kekayaan yang dikejar tanpa kendali moral berisiko menjadi sumber kegelisahan dan penderitaan.

READ  Selamat Ulang Tahun Wapres Gibran ke-39, Ngakan Yess: Semoga Selalu Diberi Kekuatan Mengabdi untuk Indonesia

Maka, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah apakah manusia boleh mengejar keberhasilan ekonomi, melainkan apakah kita memiliki Dharma yang cukup kuat untuk mengendalikan cara memperoleh dan menggunakan kekayaan tersebut.

Sebab, manusia membutuhkan uang untuk bertahan hidup, tetapi membutuhkan kebijaksanaan agar tidak kehilangan makna hidup.

Pengetahuan: Pagar Terkuat bagi Bhuwana Alit

Dalam Bhagavad Gita IV.38, Sri Krishna menyampaikan ajaran tentang kemuliaan pengetahuan:

“Na hi jñānena sadṛśaṁ pavitram iha vidyate.”

Artinya, tidak ada sesuatu di dunia ini yang lebih menyucikan daripada pengetahuan. Dalam kelanjutan sloka tersebut dijelaskan bahwa melalui kematangan dalam yoga, seseorang pada waktunya menemukan pengetahuan itu di dalam dirinya.

Pesan ini mengingatkan bahwa pengetahuan memiliki kedudukan luhur dalam kehidupan manusia. Namun, pengetahuan yang dimaksud tidak semestinya dipersempit hanya menjadi banyaknya informasi, tingginya gelar akademis, atau kemampuan menggunakan istilah yang sulit dipahami.

Pengetahuan yang bernilai adalah pengetahuan yang membantu manusia memahami kehidupan, membedakan yang benar dan yang salah, serta bertindak dengan penuh pertimbangan.

Kita hidup pada zaman ketika informasi dapat diperoleh hanya melalui telepon genggam. Berbagai pengetahuan tersedia dalam hitungan detik. Teknologi digital membuka kesempatan luas bagi generasi muda untuk belajar, membangun usaha, mengembangkan kreativitas, dan memperluas jaringan.

Namun, kemudahan mengakses informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan menilai kebenaran.

Apakah informasi yang viral pasti benar? Apakah seseorang yang memiliki banyak pengikut otomatis bijaksana? Apakah kecerdasan digital dengan sendirinya melahirkan kecerdasan moral?

Tentu tidak.

Di tengah derasnya arus informasi, manusia membutuhkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, keterbukaan terhadap pembelajaran, serta keteguhan moral untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.

Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, tantangannya bukan hanya bagaimana menjadi cepat, terampil, dan produktif, tetapi juga bagaimana tetap bijaksana ketika berhadapan dengan berbagai pilihan.

Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi kebijaksanaan manusia tidak boleh tertinggal.

Pengetahuan yang tidak disertai pengendalian diri dapat berubah menjadi alat kesombongan. Kecerdasan tanpa integritas dapat digunakan untuk menipu. Kemampuan berbicara tanpa tanggung jawab dapat melahirkan fitnah dan menyebarkan kebencian.

Karena itu, Pagerwesi dapat menjadi momentum untuk memperkuat pagar pengetahuan dalam Bhuwana Alit: belajar dengan tekun, berpikir dengan jernih, memeriksa informasi dengan cermat, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk sesuatu yang bermanfaat.

Musuh Terbesar Terkadang Berada di Dalam Diri

Bhagavad Gita VI.5 memberikan pesan yang sangat relevan bagi manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan:

“Uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet, ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ.”

Artinya, hendaknya seseorang mengangkat dirinya dengan dirinya sendiri dan tidak merendahkan dirinya. Sebab, diri sendiri dapat menjadi sahabat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

Ajaran ini mengajak manusia memahami pentingnya tanggung jawab terhadap perkembangan dirinya.

Ada kalanya masa depan terhambat bukan hanya oleh keterbatasan keadaan, tetapi juga oleh kebiasaan yang terus dipelihara: menunda pekerjaan, mengabaikan kesempatan belajar, tidak disiplin, sulit menerima kritik, atau terlalu bergantung pada pengakuan orang lain.

Kita ingin berhasil, tetapi tidak selalu bersedia menjalani proses. Kita ingin memiliki penghasilan yang baik, tetapi enggan belajar mengelola keuangan. Kita ingin dihormati, tetapi belum tentu mampu menghormati orang lain.

Kita ingin hidup tenang, tetapi terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Di sinilah manusia perlu belajar membangun persahabatan dengan dirinya sendiri melalui disiplin, kesabaran, ketekunan, dan kesediaan memperbaiki kekurangan.

Namun, ajaran tentang tanggung jawab pribadi juga harus dipahami secara proporsional. Tidak semua kesulitan hidup disebabkan oleh kelemahan individu. Kemiskinan, ketidakadilan, terbatasnya lapangan pekerjaan, dan ketimpangan kesempatan merupakan persoalan nyata yang memerlukan kepedulian serta penyelesaian bersama.

Karena itu, membangun kualitas diri harus berjalan beriringan dengan membangun lingkungan sosial yang adil dan saling mendukung.

Manusia perlu memperkuat dirinya, tetapi masyarakat juga perlu membuka kesempatan agar setiap orang memiliki ruang untuk bertumbuh.

Pagerwesi mengingatkan kita bahwa perlindungan diri tidak cukup dilakukan dengan menghindari ancaman dari luar. Kita juga perlu mengenali kebiasaan dan dorongan dalam diri yang dapat menjauhkan kita dari tujuan kehidupan.

Jangan biarkan kemalasan merampas kesempatan. Jangan biarkan kesombongan menutup ruang belajar. Dan jangan biarkan ketakutan membuat kita berhenti berusaha.

Arjuna dan Pelajaran tentang Kebijaksanaan

Dalam epos Mahabharata, Arjuna dikenal sebagai kesatria yang memiliki kemampuan luar biasa. Namun, ketika berhadapan dengan pergulatan moral di medan Kurukshetra, ia mengalami kebimbangan yang mendalam.

Ia memiliki keterampilan dan senjata, tetapi menghadapi pertanyaan tentang kewajiban, tanggung jawab, dan Dharma.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna hadir bukan sekadar untuk menguatkan keberanian Arjuna, melainkan juga menuntunnya memahami makna tindakan, kewajiban, dan pengendalian diri.

Dari kisah tersebut, kita dapat menarik pelajaran bahwa kemampuan saja tidak cukup. Manusia juga membutuhkan kebijaksanaan untuk menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan.

Dalam kehidupan modern, seseorang mungkin memiliki gelar akademis tinggi, jabatan penting, kekayaan besar, atau kemampuan teknologi yang mumpuni. Namun, semua kelebihan tersebut membutuhkan kendali moral.

READ  Dari Gubug untuk Indonesia: Merta Jiwa Dorong Generasi Muda Bijak Bermedsos, Jaga Adat dan NKRI

Orang yang menguasai teknologi harus memiliki integritas agar tidak menggunakannya untuk menipu. Orang yang memiliki pengaruh di media sosial harus bertanggung jawab agar tidak menyebarkan kebencian. Orang yang memiliki kekayaan hendaknya tetap memiliki kepedulian terhadap sesama.

Kepintaran membuat seseorang mampu melakukan banyak hal. Kebijaksanaan membantu seseorang menentukan apa yang patut dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari.

Dalam Bhagavad Gita II.47, Sri Krishna juga mengajarkan pentingnya menjalankan kewajiban tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya pusat perhatian. Ajaran ini tidak berarti manusia harus mengabaikan hasil kerja, melainkan mengingatkan agar tindakan dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan tidak diperbudak oleh keterikatan terhadap hasil.

Manusia perlu bekerja keras, tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara. Manusia boleh bercita-cita tinggi, tetapi tidak dengan kehilangan kejujuran.

Itulah kebijaksanaan yang menjadikan kemampuan sebagai sarana pengabdian, bukan sekadar alat untuk mengejar kepentingan pribadi.

Ketika Keinginan Berubah Menjadi Perangkap

Salah satu tantangan kehidupan modern adalah kecenderungan untuk terus merasa kurang.

Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. Ketika satu pencapaian diraih, muncul tuntutan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Ketika seseorang berhasil memperoleh sesuatu, ia terkadang kembali merasa tertinggal setelah melihat apa yang dimiliki orang lain.

Keinginan untuk memperbaiki kehidupan tentu bukan sesuatu yang salah. Manusia membutuhkan cita-cita, motivasi, dan harapan. Namun, keinginan yang tidak terkendali dapat membuat manusia kehilangan kemampuan untuk merasa cukup dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Bhagavad Gita XVI.21 memberikan peringatan mengenai tiga pintu menuju kehancuran diri, yaitu kama, krodha, dan lobha.

Kama dalam konteks ini menunjuk pada keinginan atau nafsu yang tidak terkendali. Krodha berarti kemarahan, sedangkan lobha berarti keserakahan.

Ketiganya dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari dengan wajah yang sangat dekat dengan kita.

Kama dapat muncul ketika seseorang terus mengejar barang dan pengakuan demi gengsi. Krodha dapat muncul ketika seseorang tidak mampu menerima kegagalan atau perbedaan pendapat. Lobha dapat muncul ketika keuntungan menjadi satu-satunya pertimbangan, bahkan ketika kejujuran dan kepentingan orang lain harus dikorbankan.

Dalam kehidupan ekonomi, dorongan tersebut dapat memengaruhi keputusan finansial, hubungan sosial, dan cara seseorang memandang keberhasilan.

Seseorang mungkin mengambil utang di luar kemampuannya demi mempertahankan citra. Seseorang mungkin menghalalkan segala cara demi keuntungan. Seseorang yang telah memiliki banyak hal mungkin tetap merasa tidak cukup karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Karena itu, pengendalian diri menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang seimbang.

Kita tidak harus berhenti bermimpi untuk menjadi sejahtera. Kita tidak perlu merasa bersalah ketika ingin meningkatkan taraf hidup. Yang perlu dijaga adalah agar keinginan tidak mengambil alih kesadaran dan menghilangkan batas moral.

Jangan sampai kita berhasil membeli banyak barang, tetapi kehilangan ketenangan karena cara mendapatkannya. Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan kekayaan, tetapi melupakan keluarga, kesehatan hubungan sosial, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Kesejahteraan sejati bukan hanya persoalan seberapa banyak yang kita miliki, melainkan juga bagaimana kita memperoleh, menggunakan, dan memaknai apa yang kita miliki.

Ilmu dan Kekayaan Harus Menghadirkan Manfaat

Bhagavad Gita III.21 mengajarkan pentingnya keteladanan:

“Yad yad ācarati śreṣṭhas tat tad evetaro janaḥ.”

Artinya, apa yang dilakukan oleh orang yang menjadi teladan akan diikuti oleh orang lain.

Ajaran ini mengingatkan bahwa setiap kelebihan membawa tanggung jawab. Pengetahuan, jabatan, kekayaan, dan pengaruh sosial seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi, tetapi dapat memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Orang berilmu diharapkan menggunakan pengetahuannya untuk membantu masyarakat. Orang yang memiliki jabatan hendaknya menjalankan kewenangannya dengan adil. Orang yang memiliki kekayaan dapat memanfaatkannya untuk membangun usaha, menciptakan kesempatan kerja, dan membantu mereka yang membutuhkan.

Bagi generasi muda, keberhasilan tidak harus selalu diterjemahkan menjadi popularitas atau pengakuan publik. Menjadi pribadi yang dapat dipercaya, mampu berkarya, dan memberikan pengaruh positif juga merupakan pencapaian yang bernilai.

Jangan hanya bercita-cita menjadi terkenal, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang membawa manfaat.

Jangan hanya mengejar penghasilan, tetapi bangunlah kemampuan untuk menciptakan nilai. Jangan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi jadilah pembelajar yang mampu menghasilkan gagasan dan karya bermanfaat.

Dalam perspektif Hindu, pengetahuan dan tindakan yang berlandaskan Dharma sepatutnya turut mendukung Jagadhita, yakni kesejahteraan dan keharmonisan kehidupan.

Dengan demikian, ilmu bukan sekadar alat untuk meninggikan kedudukan seseorang. Ilmu juga merupakan tanggung jawab untuk memperbaiki kehidupan.

Lima Pagar Bhuwana Alit di Tengah Kehidupan Modern

Jika Pagerwesi menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan diri, terdapat lima pagar yang dapat kita bangun dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, pagar pengetahuan.

Teruslah belajar, meningkatkan keterampilan, memahami perkembangan teknologi, memperkuat literasi digital, dan mengembangkan kemampuan mengelola keuangan. Jangan mudah percaya pada informasi yang belum teruji. Jadikan pengetahuan sebagai jalan untuk memahami kehidupan, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Kedua, pagar moral.

Pertahankan kejujuran ketika menghadapi godaan keuntungan. Jangan menggunakan kecerdasan untuk menipu atau jabatan untuk merugikan masyarakat. Integritas menjadi sangat penting justru ketika seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang salah tanpa diketahui orang lain.

READ  Tanpa Anggaran Pemerintah, Utsawa Jnananing Sad Dharma III Tetap Gemilang Berkat Donatur dan Kepedulian Masyarakat

Ketiga, pagar emosional.

Belajarlah mengelola kemarahan, menerima kegagalan, menghargai proses, dan menghadapi perbedaan dengan pikiran terbuka. Jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran tunggal kebahagiaan. Setiap orang memiliki perjalanan, tantangan, dan waktunya sendiri.

Keempat, pagar ekonomi.

Pahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kelola pendapatan secara bijaksana, pertimbangkan risiko sebelum mengambil utang, tingkatkan produktivitas, dan bangun kesejahteraan melalui cara yang benar. Kemandirian ekonomi perlu diperjuangkan, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai Dharma.

Kelima, pagar spiritual.

Jangan kehilangan hubungan dengan Tuhan di tengah kesibukan mengejar kehidupan duniawi. Persembahyangan dapat menjadi ruang untuk menenangkan pikiran, memperkuat keyakinan, dan mengingat kembali tujuan hidup. Jadikan Dharma sebagai pedoman ketika harus menentukan pilihan, terutama saat kepentingan pribadi berhadapan dengan nilai kejujuran dan kemanusiaan.

Kelima pagar tersebut bukan pengganti upacara dan bukan pula alasan untuk mengurangi penghormatan terhadap tradisi. Sebaliknya, semuanya merupakan ajakan untuk membawa nilai-nilai kesucian ke dalam kehidupan nyata.

Pagar spiritual yang kuat seharusnya membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, sedangkan pagar moral yang kokoh membuat manusia tetap teguh ketika menghadapi berbagai godaan.

Pagerwesi dan Pertanyaan tentang Pertumbuhan Diri

Pada akhirnya, Hari Suci Pagerwesi memberikan kesempatan kepada kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan, lalu menengok ke dalam diri.

Sudahkah pengetahuan membuat kita semakin bijaksana?

Sudahkah kekayaan membuat kita semakin peduli?

Sudahkah jabatan membuat kita semakin bertanggung jawab?

Sudahkah teknologi membantu kita menjadi lebih produktif?

Sudahkah agama membuat kita semakin menghargai sesama?

Dan sudahkah persembahyangan membantu kita mengendalikan pikiran, perkataan, serta perbuatan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghakimi kehidupan seseorang. Justru melalui refleksi, manusia memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata kembali arah kehidupannya.

Kita tidak sedang diminta memilih antara ritual dan pengetahuan. Kita juga tidak sedang diminta meninggalkan pencarian ekonomi demi kehidupan spiritual.

Kita diajak menyelaraskan semuanya.

Bekerja dengan Dharma. Mencari Artha dengan kejujuran. Mengembangkan pengetahuan dengan kerendahan hati. Membangun kekayaan tanpa kehilangan kemanusiaan. Serta menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi dan tanggung jawab.

Sebab, keberagamaan yang dihayati dengan sungguh-sungguh seharusnya menghadirkan manusia yang lebih jujur, lebih bijaksana, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab.

Pagerwesi tidak hanya mengajak kita merenungkan pagar yang melindungi kehidupan, tetapi juga mengingatkan bahwa manusia perlu menjaga dirinya agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Pesan Pagerwesi untuk Gen Z dan Seluruh Umat Hindu

Di tengah situasi ekonomi yang menantang, generasi muda perlu membangun lebih dari sekadar financial security atau keamanan finansial. Mereka juga membutuhkan intellectual security, emotional security, moral security, dan spiritual security.

Kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi membutuhkan kebijaksanaan agar tidak diperbudak oleh keinginan.

Kita membutuhkan pendidikan untuk membuka kesempatan kerja, tetapi membutuhkan karakter agar tetap berintegritas ketika memperoleh kedudukan.

Kita membutuhkan teknologi untuk berkembang, tetapi membutuhkan Dharma agar kemajuan tidak menghilangkan nilai kemanusiaan.

Kita membutuhkan ritual untuk menguatkan hubungan spiritual dengan Tuhan, tetapi juga perlu menghadirkan nilai-nilai kesucian dalam tindakan sehari-hari.

Jangan hanya memagari Bhuwana Agung melalui penghormatan terhadap alam semesta dan pelaksanaan upacara, sementara Bhuwana Alit dibiarkan tanpa penjagaan.

Pagari pikiran dengan Jnana, yakni pengetahuan yang menuntun pada kebijaksanaan. Pagari keinginan dengan Dharma. Pagari hati dengan ketulusan. Dan pagari kehidupan dengan pengendalian diri.

Karena pada akhirnya, tujuan kehidupan bukan sekadar menjadi manusia yang kaya ilmu, kaya harta, atau kaya pengalaman, melainkan menjadi manusia yang mampu menggunakan semua yang dimilikinya dengan bijaksana.

Jangan hanya berusaha menjadi manusia yang kaya ilmu, kaya harta, dan kaya pengalaman. Jadilah manusia yang kaya kebijaksanaan.

Rahajeng Rahina Suci Pagerwesi.

Semoga Sang Hyang Pramesti Guru senantiasa menerangi pikiran, meneguhkan keyakinan, dan menuntun setiap langkah kita agar senantiasa berada di jalan Dharma.

Pagerwesi bukan hanya tentang membangun pagar di luar diri, tetapi juga tentang membangun pagar di dalam diri.

Sebab, pagar terkuat bukanlah semata-mata yang melindungi tubuh dari ancaman luar, melainkan kebijaksanaan yang menjaga pikiran, keteguhan yang menjaga hati, dan Dharma yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.

Om Santih, Santih, Santih Om.

—

Penulis: Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd.
Jabatan: Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula

Refleksi Teologi Hindu Kontemporer: Pagerwesi, Pengetahuan, Ekonomi, dan Generasi Muda.

Rujukan Sastra

1. Lontar Sundarigama — petikan mengenai Hari Suci Pagerwesi dan pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru.
2. Bhagavad Gita IV.38 — kemuliaan pengetahuan.
3. Bhagavad Gita VI.5 — pengendalian dan pengembangan diri.
4. Bhagavad Gita XVI.21 — kama, krodha, dan lobha sebagai pintu kehancuran diri.
5. Bhagavad Gita III.21 — keteladanan dan tanggung jawab sosial.
6. Bhagavad Gita II.47 — pelaksanaan kewajiban dan karma yoga.
7. Mahabharata, Bhisma Parwa — dialog Sri Krishna dan Arjuna yang dikenal sebagai Bhagavad Gita.

Berita Terbaru

Serangkaian Hut 57 Tahun BPR Tri Dharma Putri, 11.100 Peserta Bergerak Bersama, Tebarkan Semangat Sehat dan Ekonomi Klungkung

PERMUDAH PELAYANAN  LPD DESA ADAT PELIATAN HADIRKAN MESIN ANTREAN ONLINE, LAYANAN KRAMA KIAN MODERN

Beri Dukungan pada TDP Festival 2026, BPR Sari Jaya Sedana Ajak Industri BPR di Bali Bersinergi dan Tumbuh Bersama

Pastikan Makanan Bergizi dan Aman bagi Anak, Satgas MBG Gianyar Sisir Kelayakan Seluruh SPPG

Newsyess.com Berbagi Sembako Bersama Mongoh, Pengusaha Aki dari Buruan Hadirkan Senyum untuk Lansia 90 Tahun