GIANYAR | Infolpdbali.com — Koperasi bukan sekadar tempat menyimpan dan meminjam uang. Di tengah kehidupan masyarakat, koperasi juga dapat menjadi ruang kebersamaan, tempat tumbuhnya kepedulian dan hadirnya rasa kekeluargaan ketika anggota menghadapi masa sulit.
Hal tersebut tercermin dari komitmen KSP Perkanti Amerta Sedana yang secara konsisten menjalankan program dana santunan kematian bagi anggota atau krama Banjar Sampiang, Gianyar yang meninggal dunia.
Program sosial tersebut telah berjalan sejak tahun 2012 dan hingga kini tetap dipertahankan sebagai bentuk kepedulian koperasi terhadap keluarga yang sedang mengalami kedukaan.
Ketua KSP Perkanti Amerta Sedana, I Dewa Putu Tagelliastha, SH, saat ditemui Newsyess.com di Kantor Koperasi Banjar Sampiang, Gianyar, Rabu (7/10/2026), mengatakan santunan kematian diberikan tanpa pengecualian bagi anggota atau krama yang memenuhi ketentuan sebagai bagian dari komunitas Banjar Sampiang.
“Yang penting meninggal. Kalau ada anggota atau krama banjar yang meninggal dunia, kita berikan santunan,” ujarnya.
Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk kepedulian koperasi terhadap keluarga yang ditinggalkan. Nilai santunan saat ini mencapai Rp1,5 juta untuk setiap anggota yang meninggal dunia.
Meski nilainya tidak mungkin menyelesaikan seluruh kebutuhan keluarga yang sedang berduka, Tagelliastha menilai bantuan tersebut setidaknya dapat meringankan beban pada saat-saat yang tidak pernah diharapkan.
“Memang dana itu tidak bisa menyelesaikan masalah mereka. Tetapi paling tidak, ada bantuan yang datang di saat mereka sedang membutuhkan. Mereka merasa koperasi peduli dan hadir,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sejak pertama kali digulirkan pada 2012, besaran santunan terus mengalami penyesuaian sesuai dengan kemampuan koperasi. Program tersebut juga telah menjadi bagian dari komitmen sosial KSP Perkanti Amerta Sedana kepada krama dan anggotanya.
Dalam pelaksanaannya, jumlah warga yang meninggal dunia setiap tahun tentu tidak dapat diprediksi. Pada tahun sebelumnya tercatat sekitar lima orang yang menerima santunan, sementara dalam kondisi tertentu jumlahnya dapat mencapai enam hingga delapan orang dalam setahun.
“Orang meninggal itu tidak bisa diprediksi. Karena itu selama dana memungkinkan, kita tetap berusaha memberikan santunan,” katanya.
Koperasi Bukan Hanya Mengejar Angka
Komitmen sosial tersebut berjalan bersamaan dengan kinerja KSP Perkanti Amerta Sedana yang terus menunjukkan pertumbuhan.
Hingga September 2026, aset koperasi telah mencapai sekitar Rp38 miliar, meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang berada di angka Rp34 miliar.
Dari sisi SHU, hingga September 2026 koperasi telah membukukan SHU berjalan sekitar Rp1 miliar, dengan target hingga akhir tahun 2026 mencapai sekitar Rp1,255 miliar.
Sementara penyaluran kredit koperasi hingga saat ini telah mencapai sekitar Rp22 miliar.
Pertumbuhan tersebut, menurut Tagelliastha, tidak terlepas dari kepercayaan anggota dan krama terhadap koperasi. Baginya, ukuran keberhasilan koperasi bukan semata-mata seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Intinya, kita bekerja bukan berpikir apa yang harus saya dapat dari mereka, tetapi apa yang bisa kita berikan kepada mereka,” tegasnya.
Krama Mendapat Berbagai Manfaat
Selain santunan kematian, KSP Perkanti Amerta Sedana juga memberikan sejumlah manfaat sosial lainnya bagi krama dan anggota.
Di antaranya, bantuan bagi anggota yang melaksanakan perkawinan sebesar Rp500 ribu, bantuan ketika melahirkan sebesar Rp500 ribu, serta bantuan bagi anggota yang menjalani operasi sebesar Rp500 ribu.
Koperasi juga memberikan sembako pada setiap hari raya sebanyak tiga kali dalam setahun sebagai bagian dari manfaat yang diterima anggota.
Tidak hanya itu, KSP Perkanti Amerta Sedana juga mengambil bagian dalam mendukung kegiatan adat dan keagamaan. Koperasi menggratiskan urunan krama Banjar untuk kegiatan di Pura Kahyangan Tiga sekitar Rp8 juta per tahun, termasuk membantu pembayaran listrik di pura dan banjar.
Bagi Tagelliastha, berbagai manfaat tersebut bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian dari semangat koperasi yang sejak awal dibangun atas dasar kebersamaan.
“Kalau koperasi mampu memberikan manfaat, masyarakat akan merasakan bahwa koperasi itu benar-benar milik mereka,” ujarnya.
Kepercayaan Menjadi Modal Utama
Di tengah perkembangan digitalisasi dan semakin banyaknya pilihan lembaga keuangan, KSP Perkanti Amerta Sedana melihat kepercayaan masyarakat tetap menjadi modal utama.
Tagelliastha menyebut kepercayaan tersebut tumbuh karena masyarakat melihat langsung manfaat pelayanan koperasi.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya melihat angka aset maupun SHU, tetapi juga bagaimana koperasi hadir ketika mereka membutuhkan.
“Orang menilai dari pelayanan kita. Selama kepercayaan itu dijaga, koperasi akan terus berjalan,” katanya.
Ia menegaskan, koperasi pada hakikatnya adalah milik anggota dan masyarakat yang menjadi bagian di dalamnya. Karena itu, pengurus dan pengelola memiliki posisi sebagai pelayan yang bertugas memberikan manfaat sebaik-baiknya.
Koperasi Harus Dirasakan Manfaatnya
Ke depan, Tagelliastha berharap seluruh krama Banjar Sampiang dan anggota KSP Perkanti Amerta Sedana ikut menjaga keberadaan koperasi.
Ia ingin koperasi tidak hanya dipandang sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai wadah bersama yang memberikan rasa aman, manfaat dan kepedulian kepada anggotanya.
“Koperasi ini milik mereka. Kami yang bekerja di sini adalah pelayan. Apa yang bisa kami perbuat untuk mereka, itulah yang kami pikirkan. Jangan berpikir apa yang harus saya dapat dari mereka,” tegasnya.
Dengan prinsip tersebut, pertumbuhan aset bukan menjadi satu-satunya tujuan. Lebih dari itu, koperasi diharapkan mampu menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara merata oleh anggota dan krama.
Sebab, ketika seorang anggota berduka dan koperasi hadir memberikan santunan, di situlah koperasi tidak lagi sekadar berbicara tentang angka—tetapi tentang rasa kekeluargaan, kepedulian dan keberadaan bersama. (Tim Newsyess)