GIANYAR | Infolpdbali.com – Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, sejumlah tradisi leluhur di Bali tetap bertahan sebagai penanda identitas, sejarah, sekaligus perekat hubungan antara puri dan masyarakat. Salah satunya adalah keberadaan Kulkul Duwe Puri Peliatan yang ditempatkan di atas pohon beringin di kawasan strategis Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
Bendesa Adat Peliatan, Cokorda Putra Wisnu Wardana ketika di temui Newsyess pada, Sabtu, 31/10/2026 di Peliatan Mengungkapkan Bahwq Keberadaan kulkul tersebut bukan sekadar menghadirkan nilai estetika dalam langkah desa. Lebih dari itu, Kulkul Duwe i Puri menyimpan jejak sejarah panjang Puri Peliatan, di mana sudah ada sejak 1800 tahun sekaligus menjadi bagian penting dari pelaksanaan aktivitas keagamaan dan komunikasi tradisional dengan masyarakat.
Bagi masyarakat Bali, kulkul memiliki makna yang jauh melampaui sebuah alat bunyi. Suaranya merupakan bahasa tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks kehidupan adat dan keagamaan, bunyi kulkul dapat menjadi penanda adanya kegiatan, panggilan untuk berkumpul, maupun isyarat yang dipahami bersama oleh masyarakat.
Di Puri Peliatan, tradisi tersebut masih dipertahankan. Kulkul Duwe Puri tetap berada di atas pohon beringin, sebagaimana keberadaannya yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah puri.
Bukan Sekadar Penempatan, tetapi Bagian dari Sejarah Puri
Keberadaan Kulkul Duwe Puri di atas pohon beringin memiliki latar belakang historis yang berkaitan dengan tata ruang tradisional Puri Peliatan.
Dalam penuturan mengenai sejarahnya, penempatan kulkul di lokasi strategis merupakan bagian dari kebutuhan komunikasi pada masa kerajaan. Ketika puri masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, keberadaan kulkul menjadi sarana untuk menyampaikan tanda atau panggilan yang dapat diketahui masyarakat di sekitarnya.
Pohon beringin yang telah tumbuh jauh sebelum generasi sekarang kemudian menjadi tempat keberadaan kulkul tersebut. Dengan posisinya yang relatif tinggi, kulkul tampak menonjol sekaligus menyatu dengan lanskap tradisional Peliatan.
Penempatan kulkul di atas pohon beringin bukan semata-mata persoalan keharusan secara tata ruang. Ada nilai sejarah, kebiasaan, dan kesinambungan tradisi yang membuat keberadaannya tetap dipertahankan hingga sekarang.
Dalam kisah perjalanan Puri Peliatan, kawasan ini juga memiliki sejarah perpindahan lokasi. Puri Peliatan disebut pernah berada di kawasan sekitar perempatan Banjar Tengah, sebelum kemudian berada di lokasi sekarang.
Perubahan tersebut berlangsung dalam perjalanan sejarah kerajaan. Pada masa pemerintahan Raja Peliatan saat itu dan Puri disebut mengalami masa kejayaan. Periode inilah yang diperkirakan berkaitan dengan penataan kawasan puri dan keberadaan kulkul di atas pohon beringin, sekitar abad ke-18
Meski demikian, tahun pasti penempatan kulkul tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui sumber sejarah dan keterangan lintas generasi. Yang jelas, pohon beringin dan kulkul telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Peliatan.
Pohon Beringin, Catus Pata, dan Identitas Peliatan
Dalam tata ruang tradisional Bali, catus pata atau perempatan jalan memiliki kedudukan penting. Ruang ini bukan hanya persilangan jalur lalu lintas, melainkan juga memiliki makna sosial, budaya, dan spiritual dalam kehidupan desa adat.
Peliatan memiliki karakter tata ruang yang berkaitan erat dengan sejarah penataan kawasan puri. Penataan yang dikenal memiliki garis perempatan relatif lurus menjadi salah satu ciri yang membedakan kawasan tersebut dari sejumlah wilayah lain.
Di tengah lanskap itu, pohon beringin menghadirkan kesan teduh, kokoh, dan berwibawa. Keberadaan kulkul di atasnya menambah nilai visual sekaligus mempertegas identitas kawasan.
Dari kejauhan, kulkul Duwe puri yang bertengger di atas pohon beringin tampak sebagai bagian dari wajah tradisional Peliatan. Pemandangan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya tidak selalu hadir dalam bangunan megah, tetapi juga melalui benda tradisional yang dipertahankan pada tempatnya.
Kulkul Duwe Puri menurut Cokorda Wardana dirinya merupakan bagian dari pada puri dan dirinya menjadi Bendesa sudah ke Generasi ke -12 dan ini menjadi contoh bahwa nilai estetika dan nilai sejarah dapat berjalan beriringan. Keindahannya bukan sekadar hasil penataan fisik, melainkan juga lahir dari makna yang hidup di tengah masyarakat.
Berkaitan dengan Aktivitas Keagamaan dan Tradisi Agraris
Selain memiliki nilai historis, Kulkul Duwe Puri masih digunakan dalam aktivitas keagamaan di lingkungan Puri Peliatan.
Dalam tradisi masyarakat Bali yang memiliki akar kehidupan agraris, hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual merupakan satu kesatuan. Kegiatan bertani tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta harapan agar kehidupan dan hasil bumi senantiasa memperoleh kesejahteraan.
Dalam konteks tersebut, terdapat tradisi masyarakat yang berkaitan dengan pemujaan dan permohonan tirta, termasuk yang berhubungan dengan pohon beringin. Sebelum prosesi berlangsung, kulkul dibunyikan sebagai tanda dimulainya kegiatan. Selanjutnya, pemangku melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan upacara sesuai dengan tradisi yang berlaku.
Tirta yang diperoleh kemudian dimohonkan oleh masyarakat untuk mendukung kehidupan spiritual mereka, termasuk bagi masyarakat yang menjalankan kegiatan pertanian.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa kulkul bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi tetap memiliki fungsi nyata dalam kehidupan masyarakat. Suaranya menghubungkan pelaksanaan upacara, keberadaan puri, dan keterlibatan masyarakat dalam tradisi yang diwariskan leluhur.
Penabuh Kulkul, Tugas Khusus yang Diwariskan Turun-Temurun
Keistimewaan Kulkul Dewe Puri juga terletak pada orang-orang yang mendapat tugas untuk membunyikannya.
Tugas tersebut tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan dipercayakan kepada keluarga tertentu yang memiliki hubungan turun-temurun dengan tanggung jawab tersebut.
Lebih lenjut Menurut Cokorda mengenai tradisi ini, terdapat dua garis keluarga yang dikenal memiliki keterkaitan dengan tugas membunyikan kulkul, yakni keluarga dari Banjar Teguh dan Banjar Tengah Kauh. Ungkap Wardana
Kepercayaan yang diwariskan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya menyangkut benda atau tempat, tetapi juga menyangkut manusia yang menjaga pengetahuan, tata cara, dan tanggung jawab adat.
Mereka yang menjalankan tugas tersebut menjadi bagian dari mata rantai sejarah. Dari generasi ke generasi, pengetahuan tentang kapan kulkul dibunyikan, bagaimana menjalankan tugas, serta apa makna di balik bunyinya terus dipelihara.
Dengan demikian, keberlangsungan Kulkul Duwe Puri tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara puri, keluarga yang mendapat tugas, dan masyarakat yang memahami makna bunyinya.
Puri Memilih Mempertahankan Kulkul di Tempat Asalnya
Salah satu hal penting dalam pelestarian Kulkul Duwe Puri adalah keputusan untuk tetap mempertahankan keberadaannya di atas pohon beringin.
Dalam penjelasan mengenai tradisi tersebut, sesungguhnya tidak ada persoalan apabila kulkul ditempatkan di lokasi lain. Namun, Puri Peliatan memilih untuk tidak memindahkannya dan tidak membuat kulkul pengganti di lingkungan pemerajaan agung.
Pilihan itu mencerminkan penghormatan terhadap kesinambungan sejarah dan keutuhan tata ruang tradisional puri.
Keberadaan kulkul di atas pohon beringin dipandang sebagai salah satu tonggak sejarah yang menandai perjalanan Puri Peliatan. Karena itu, mempertahankannya pada tempat semula menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
Dalam pandangan tersebut, puri dan lingkungan sekitarnya merupakan satu kesatuan yang tidak hanya memiliki nilai fisik, tetapi juga menyimpan hubungan sejarah, adat, dan spiritualitas yang saling berkaitan.
Kulkul Duwe Puri pun tetap berdiri pada posisinya, menjadi saksi perjalanan waktu sekaligus penanda bahwa tradisi dapat bertahan ketika generasi penerus memiliki kesadaran untuk menjaganya.
Suara Kulkul sebagai Bahasa Komunikasi Masyarakat
Di tengah perkembangan teknologi komunikasi modern, bunyi kulkul masih memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Peliatan.
Ketika kulkul berbunyi, masyarakat yang telah memahami tradisi tersebut biasanya akan bertanya mengenai kegiatan apa yang sedang berlangsung di puri. Respons itu menunjukkan bahwa bunyi kulkul telah membentuk pemahaman bersama yang diwariskan melalui pengalaman dan kebiasaan.
Tanpa harus selalu disampaikan melalui penjelasan panjang, suara kulkul menjadi tanda yang menghubungkan masyarakat dengan kegiatan adat dan keagamaan.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi dapat menjadi sarana komunikasi sosial yang efektif. Meskipun masyarakat mengalami perubahan pola hubungan sosial, simbol-simbol budaya tetap dapat berfungsi sebagai pengikat kebersamaan.
Bagi generasi muda, termasuk anak-anak dan kalangan Gen Z, pemahaman mengenai kulkul perlu terus dibangun. Mereka tidak cukup hanya mengetahui bentuk dan bunyinya, tetapi juga perlu memahami sejarah, fungsi, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pengenalan tradisi melalui keluarga, lingkungan desa adat, dan kegiatan kebudayaan menjadi langkah penting agar warisan tersebut tidak berhenti sebagai pemandangan yang menarik, tetapi tetap hidup dalam kesadaran masyarakat.
Menjaga Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang
Pelestarian Kulkul Duwe Puri pada akhirnya berbicara tentang tanggung jawab bersama dalam menjaga identitas budaya.
Warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi memiliki nilai mulia dan kekhasan yang tidak selalu dapat digantikan oleh benda atau bangunan baru. Karena itu, keberadaannya perlu dipertahankan, dirawat, dan terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Bagi Puri Peliatan, Kulkul Duwe Puri bukan hanya bagian dari sejarah kerajaan masa lalu. Keberadaannya juga menjadi pengingat tentang bagaimana hubungan antara puri dan masyarakat dibangun melalui tradisi, kegiatan keagamaan, dan komunikasi yang berlangsung lintas generasi.
Di tengah perubahan zaman, upaya menjaga warisan tersebut menjadi semakin penting. Modernisasi boleh mengubah cara masyarakat berinteraksi, tetapi tidak semestinya menghapus pemahaman terhadap akar budaya sendiri.
Pohon beringin yang menaungi kulkul itu seolah menjadi gambaran perjalanan waktu. Akarnya mencengkeram bumi, batangnya berdiri kokoh, sementara cabang-cabangnya tumbuh menjangkau ruang yang lebih luas. Demikian pula tradisi leluhur: berakar pada sejarah, bertahan dalam perjalanan zaman, dan terus diharapkan tumbuh melalui pemahaman generasi penerus.
Selama Kulkul Duwe Puri tetap dijaga dan maknanya terus diwariskan, selama itu pula salah satu jejak sejarah Puri Peliatan akan tetap hidup di tengah masyarakat.ucap Wardana
Sebab, melestarikan warisan leluhur bukan sekadar mempertahankan benda yang telah berusia ratusan tahun. Lebih dari itu, pelestarian merupakan upaya merawat ingatan, menjaga jati diri, dan memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali pada masa kini maupun masa mendatang. (Tim Newsyess)