BADUNG | Infolpdbali.com – Di balik pertumbuhan sebuah lembaga keuangan desa adat, ada nilai-nilai kebersamaan yang senantiasa menjadi napas dalam setiap langkahnya. Bagi LPD Desa Adat Selat, Kabupaten Badung, keberhasilan bukan semata-mata diukur dari angka aset dan laba, tetapi juga dari seberapa besar lembaga tersebut mampu hadir dan memberi manfaat bagi desa adat dan krama.
Semangat tersebut kembali diwujudkan LPD Desa Adat Selat melalui ngaturang punia sebesar Rp10 juta untuk mendukung pelaksanaan upacara di Pura Puncak Alasangker, Desa Adat Selat, Kabupaten Badung.
Pemucuk LPD Desa Adat Selat, I Gusti Ketut Sudarsana, saat ditemui Newsyess.com beberapa waktu lalu mengatakan, punia tersebut merupakan bentuk dukungan LPD terhadap pelaksanaan upacara keagamaan sekaligus wujud rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dari total punia Rp10 juta tersebut, Rp5 juta diperuntukkan bagi kegiatan Ngodakan Ratu Sakti, sementara Rp5 juta lainnya digunakan untuk kebutuhan konsumsi selama rangkaian kegiatan upacara di Pura Puncak Alasangker.
“Punia ini kami berikan untuk mendukung pelaksanaan upacara di Pura Puncak Alasangker. Sebesar Rp5 juta untuk Ngodakan Ratu Sakti dan Rp5 juta untuk konsumsi,” ungkap I Gusti Ketut Sudarsana.
Menurutnya, keberadaan LPD tidak dapat dipisahkan dari kehidupan desa adat. LPD tumbuh dari kepercayaan krama dan karena itu sudah semestinya keberadaan lembaga tersebut kembali memberikan manfaat bagi masyarakat dan desa adat.
Kepercayaan Krama Menjadi Kekuatan LPD
Kepercayaan krama menjadi salah satu kekuatan utama LPD Desa Adat Selat dalam menjaga sekaligus meningkatkan kinerja lembaga keuangan milik desa adat tersebut.
Di tengah dinamika perekonomian yang terus berkembang, LPD Desa Adat Selat mampu menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga Agustus 2026, aset LPD Desa Adat Selat telah mencapai sekitar Rp38 miliar, meningkat dibandingkan posisi tahun 2025 yang tercatat sekitar Rp37 miliar.
Pertumbuhan tersebut menjadi gambaran bahwa kepercayaan krama terhadap LPD terus terjaga. Kepercayaan itu kemudian menjadi energi bagi jajaran pengurus untuk menjalankan lembaga secara konsisten, hati-hati, dan berorientasi pada kemajuan desa adat.
Tidak hanya dari sisi aset, kinerja laba LPD Desa Adat Selat juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hingga Agustus 2026, laba berjalan telah mencapai sekitar Rp487 juta.
Capaian tersebut menjadi modal optimisme bagi jajaran pengurus untuk terus meningkatkan kinerja hingga penghujung tahun. LPD Desa Adat Selat menargetkan laba sebesar Rp681 juta pada akhir 2026.
Bagi I Gusti Ketut Sudarsana, capaian tersebut tentu tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan krama. LPD merupakan lembaga yang lahir dari desa adat, sehingga keberhasilannya juga diharapkan dapat kembali dirasakan oleh desa adat dan masyarakat.
Punia sebagai Wujud Kehadiran LPD
Ngaturang punia Rp10 juta untuk Pura Puncak Alasangker menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana LPD hadir tidak hanya sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat adat.
Sebab, di Bali, roda perekonomian desa adat dan kehidupan adat berjalan beriringan. Ketika lembaga ekonomi tumbuh, nilai kebersamaan dan rasa menyama braya juga diharapkan ikut tumbuh.
Punia mungkin hanya sebuah angka jika dilihat dari sisi nominal. Namun di baliknya terdapat makna yang jauh lebih dalam: rasa bhakti, kepedulian, dan penghormatan terhadap adat serta tradisi yang diwariskan leluhur.
Dukungan terhadap pelaksanaan upacara di Pura Puncak Alasangker sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya tentang seberapa besar aset yang berhasil dihimpun atau laba yang diperoleh, tetapi juga tentang seberapa jauh keberadaan lembaga tersebut mampu memberi arti bagi lingkungan tempatnya tumbuh.
Dengan semangat “tumbuh bersama krama, berkembang bersama desa adat”, LPD Desa Adat Selat terus berupaya menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat perannya sebagai bagian dari denyut kehidupan ekonomi dan sosial Desa Adat Selat.
Di tengah perjalanan menuju target kinerja 2026, semangat ngayah dan berbagi tersebut menjadi warna tersendiri. Sebuah lembaga ekonomi desa adat tidak hanya berdiri untuk mencatat angka-angka pertumbuhan, tetapi juga untuk menjaga hubungan, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan manfaat bagi krama.
Karena ketika kepercayaan dijaga dengan ketulusan, pertumbuhan tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dalam manfaat yang kembali kepada desa adat dan masyarakatnya. (Tim infolpdbali)