GIANYAR | Infolpdbali.com – Komitmen membangun desa tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar. Terkadang, perubahan justru berawal dari hal-hal sederhana yang menyentuh wajah desa, memperindah lingkungan, merawat warisan sejarah, hingga menumbuhkan kembali rasa bangga masyarakat terhadap tanah kelahirannya.
Semangat itulah yang kini ditunjukkan Perbekel Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Cokorda Gede Agusnawa, melalui program 100 hari kerja setelah dilantik. Ia berkomitmen menata dan mempercantik wajah Desa Peliatan agar semakin bersih, tertata, berkarakter, serta mampu memperkuat daya tarik desa yang dikenal sebagai salah satu pusat seni dan budaya Bali.
Pada Rabu, 4 November 2026, Agusnawa menyampaikan bahwa penataan desa merupakan bagian dari komitmen yang telah ia bangun sejak masa kampanye. Baginya, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan lingkungan desa yang nyaman, indah, dan memiliki identitas kuat.
“Ini merupakan bagian dari komitmen yang sudah saya sampaikan sejak kampanye. Kami ingin melakukan restorasi dan penataan terhadap sejumlah titik di Desa Peliatan, sehingga wajah desa semakin indah dan masyarakat semakin bangga terhadap desanya sendiri,” demikian semangat yang disampaikan Agusnawa.
Menata Titik Nol, Mengangkat Identitas Desa
Salah satu perhatian utama dalam penataan tersebut adalah kawasan yang menjadi titik nol atau penanda identitas Desa Peliatan. Kawasan ini memiliki nilai penting karena menjadi bagian dari wajah desa yang dilihat masyarakat maupun pengunjung yakni Catus pata Desa Peliatan.
Agusnawa menyoroti keberadaan monumen atau tugu yang dinilai perlu ditata kembali agar tampil lebih menonjol dan mudah terlihat. Posisi monumen yang relatif rendah menjadi salah satu hal yang sedang dikaji untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Rencana penataan tersebut mencakup pembenahan permukaan lahan di sekitar monumen, termasuk kemungkinan meratakan bagian yang lebih rendah, kemudian meninggikan posisi monumen agar keberadaannya semakin terlihat.
Menurutnya, peninggian sekitar 1,5 meter menjadi salah satu gagasan awal yang perlu dikaji lebih lanjut sebelum pelaksanaan. Langkah ini diharapkan mampu memberikan tampilan yang lebih proporsional sekaligus memperkuat karakter kawasan titik nol Desa Peliatan.
Meski demikian, penataan tidak dilakukan secara terburu-buru. Aspek estetika, kondisi lokasi, serta nilai sejarah yang melekat pada monumen perlu diperhatikan agar pembenahan tidak menghilangkan makna yang telah diwariskan sebelumnya.
Menggali Kembali Jejak Sejarah di Balik Monumen
Di balik rencana mempercantik wajah desa, terdapat pekerjaan penting yang tidak kalah berarti, yakni menelusuri kembali sejarah yang tersimpan di kawasan monumen.
Agusnawa mengungkapkan bahwa terdapat tulisan atau catatan sejarah yang berkaitan dengan monumen tersebut. Namun, keberadaan dan isi catatan itu masih perlu ditelusuri agar dapat dipahami secara lebih utuh.
Untuk mendukung upaya tersebut, ia telah mengajak seorang warga yang memiliki kompetensi di bidang bahasa dan sastra Bali, yakni Ida Bagus Oka Manobhawa dari Giriapeling, Padang Tegal, untuk membantu menelusuri dan memahami aspek historis yang berkaitan dengan kawasan tersebut.
Pelibatan sumber daya manusia yang memahami bahasa dan sastra Bali menjadi langkah penting dalam menjaga keaslian makna peninggalan sejarah. Sebab, monumen bukan sekadar bangunan fisik, melainkan juga dapat menjadi penanda perjalanan, ingatan, dan identitas sebuah desa.
Melalui kajian yang lebih mendalam, penataan diharapkan tidak hanya menghasilkan perubahan secara visual, tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai sejarah yang dimiliki Desa Peliatan.
Penerangan Malam Hari, Menghadirkan Wajah Desa yang Lebih Hidup
Selain penataan monumen, Agusnawa juga menaruh perhatian pada penerangan kawasan desa, termasuk lingkungan kantor desa dan pepohonan di sekitarnya.
Penerangan yang memadai diharapkan membuat lingkungan terlihat lebih terang dan nyaman pada malam hari. Dengan demikian, wajah Desa Peliatan tidak hanya menarik pada siang hari, tetapi juga memiliki suasana yang lebih hidup ketika malam tiba.
Kehadiran pencahayaan di sekitar kantor desa dan pepohonan menjadi bagian dari upaya memperkuat estetika lingkungan sekaligus memberikan kesan tertata bagi masyarakat maupun pengunjung yang melintas.
Bagi Agusnawa, perubahan semacam ini merupakan bagian dari pembenahan yang dilakukan secara bertahap. Setiap sudut desa memiliki potensi untuk diperindah, selama penataannya tetap memperhatikan karakter dan kebutuhan masyarakat setempat.
Pohon Beringin dan Karakter Khas Peliatan
Desa Peliatan memiliki kekayaan identitas yang tidak bisa dilepaskan dari seni, budaya, dan keberadaan ruang-ruang yang memiliki nilai historis. Salah satu unsur yang ingin ditonjolkan dalam penataan kawasan titik nol adalah keberadaan dua pohon beringin besar yang menjadi bagian dari karakter lingkungan setempat.
Pohon beringin tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari identitas visual desa, sekaligus memperkuat kesan asri dan berkarakter.
Penataan kawasan di sekitar pohon beringin, monumen, dan ruang-ruang publik perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keselarasan antara keindahan, kelestarian lingkungan, dan nilai budaya.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak sekadar mengubah tampilan fisik, tetapi juga menjaga elemen-elemen yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Peliatan.
Desa Seni dan Budaya yang Semakin Berdaya Tarik
Sebagai desa yang dikenal memiliki tradisi seni dan budaya yang kuat, Peliatan mempunyai modal sosial dan kebudayaan yang dapat terus dikembangkan. Kekayaan tersebut tercermin dalam berbagai kegiatan seni, termasuk seni karawitan dan tradisi tari.
Agusnawa berharap penataan lingkungan desa dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan mengembangkan potensi seni budaya yang telah menjadi kebanggaan masyarakat.
Wajah desa yang bersih, tertata, dan menarik akan menjadi pelengkap bagi kekayaan budaya yang dimiliki. Lingkungan yang nyaman juga diharapkan dapat menambah minat masyarakat maupun wisatawan untuk berkunjung, mengenal tradisi, serta merasakan kehidupan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat Peliatan.
Ke depan, ia mengisyaratkan masih akan ada sejumlah pembenahan lain yang dilakukan secara bertahap. Rencana-rencana tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk menghadirkan Desa Peliatan yang semakin memesona tanpa kehilangan akar tradisi dan jati dirinya.
Mengajak Masyarakat Mencintai Desa Sendiri
Bagi Agusnawa, keberhasilan membangun desa tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah desa. Dukungan dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar setiap program yang direncanakan dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata.
Ia mengajak seluruh masyarakat Peliatan untuk bersama-sama mengabdikan diri bagi kemajuan desa. Semangat gotong royong perlu terus dirawat, sebab rasa memiliki terhadap desa merupakan fondasi penting dalam menjaga lingkungan, melestarikan budaya, dan membangun masa depan bersama.
“Dari kita untuk kita. Kalau bukan kita yang mencintai dan membangun desa sendiri, siapa lagi?” demikian pesan yang mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun Peliatan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap desa tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan itu perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana, mulai dari menjaga kebersihan, merawat fasilitas umum, menghormati warisan budaya, hingga berpartisipasi dalam setiap upaya pembangunan.
Seratus Hari sebagai Awal Perubahan
Program 100 hari kerja menjadi momentum bagi Perbekel Cokorda Gede Agusnawa untuk mulai menerjemahkan komitmennya ke dalam langkah nyata. Penataan titik nol, pembenahan kawasan monumen, penelusuran catatan sejarah, serta penguatan estetika melalui penerangan menjadi bagian dari gagasan untuk mempercantik wajah Desa Peliatan.
Namun, esensi pembangunan yang ingin diwujudkan jauh lebih besar daripada sekadar keindahan fisik. Di balik penataan lingkungan, terdapat harapan agar masyarakat semakin mencintai desanya, generasi muda semakin mengenal sejarahnya, dan potensi seni budaya semakin memperoleh ruang untuk berkembang.
Peliatan tidak hanya ingin tampil indah di mata pengunjung, tetapi juga semakin membanggakan bagi warganya sendiri.
Sebab, desa yang maju bukan semata-mata desa yang memiliki bangunan megah atau kawasan yang tertata rapi. Desa yang maju adalah desa yang mampu menjaga warisan masa lalu, merawat kehidupan hari ini, dan menyiapkan masa depan dengan semangat kebersamaan.
Melalui komitmen penataan yang dilakukan secara bertahap, Desa Peliatan diharapkan semakin menegaskan jati dirinya sebagai desa yang indah, berbudaya, dan memiliki daya tarik kuat di tengah dinamika perkembangan pariwisata Ubud.
Dari titik nol, perubahan diharapkan mulai terlihat. Dari kebersamaan, masa depan desa dibangun. Dan dari kecintaan masyarakatnya, Peliatan akan terus tumbuh tanpa kehilangan jiwa dan budayanya.
(Newsyess.com – Mengabarkan dengan hati, membangun inspirasi dari Bali).