DENPASAR | Infolpdbali.com — Membangun sebuah kota bukan sekadar menghadirkan gedung-gedung baru, memperbaiki infrastruktur, atau mendorong pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga menyangkut bagaimana sebuah daerah menjaga identitas, merawat warisan leluhur, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan membuka ruang kreativitas bagi masyarakatnya.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu sisi menarik dalam perjalanan Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si., tokoh asal Bali yang dikenal luas dengan nama Rai Mantra. Ia pernah memimpin Kota Denpasar sebagai wali kota pada 2008–2021 dan kini mengemban amanah sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Bali untuk periode 2024–2029.
Lahir di Denpasar pada 30 April 1967, Rai Mantra menempuh perjalanan panjang sebelum memasuki panggung politik nasional. Pengalaman di dunia usaha, organisasi pengusaha, pemerintahan daerah, serta pendidikan akademik membentuk latar belakang yang menarik untuk melihat bagaimana gagasan pembangunan kota dan pelestarian budaya dijalankan dalam praktik.
Tumbuh dalam Lingkungan Keluarga yang Dekat dengan Kebudayaan
Rai Mantra merupakan putra Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, tokoh pendidikan dan kebudayaan Bali yang pernah menjabat sebagai Gubernur Bali periode 1978–1988, dan I Gusti Ayu Badri.
Nama Ida Bagus Mantra memiliki tempat penting dalam perjalanan kebudayaan Bali modern. Perhatiannya terhadap pendidikan, seni, tradisi, dan penguatan identitas Bali menjadi bagian dari warisan pemikiran yang terus dikenang masyarakat.
Bertumbuh dalam lingkungan keluarga dengan latar belakang tersebut memberikan konteks tersendiri bagi perjalanan Rai Mantra. Meski demikian, rekam jejaknya sebagai pemimpin publik tetap perlu dinilai berdasarkan pengalaman, keputusan, kebijakan, dan kontribusi yang dijalankannya sendiri.
Dalam konteks pembangunan daerah, hubungan antara tradisi dan modernitas menjadi salah satu tema yang menonjol selama ia memimpin Denpasar.
Pendidikan: Perpaduan Ekonomi, Kebudayaan, dan Manajemen
Perjalanan pendidikan Rai Mantra dimulai di SD Iskandarsyah Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Denpasar dan SMA Negeri 1 Denpasar.
Pendidikan tingginya ditempuh di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana hingga meraih gelar sarjana pada 1991. Ia kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Hindu Indonesia pada bidang Ilmu Agama dan Kebudayaan dan menyelesaikannya pada 2004.
Ketertarikannya terhadap pengembangan ilmu tidak berhenti pada jenjang tersebut. Pada 2023, ia menyelesaikan pendidikan doktor di Program Studi Doktor Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Disertasinya berjudul Peranan Modal Budaya dalam Meningkatkan Kinerja Keuangan LPD di Bali Saat Covid-19.
Topik tersebut mengangkat hubungan antara modal budaya dan kinerja Lembaga Perkreditan Desa (LPD), khususnya dalam menghadapi situasi krisis akibat pandemi Covid-19.
Pemilihan tema ini menarik karena LPD bukan sekadar lembaga keuangan di Bali. Keberadaannya juga berkaitan dengan kehidupan desa adat, kepercayaan masyarakat, dan nilai-nilai sosial yang tumbuh di lingkungan setempat.
Melalui penelitian tersebut, kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu perspektif untuk memahami ketahanan lembaga ekonomi berbasis masyarakat. Namun, besarnya kontribusi masing-masing faktor tetap perlu dilihat berdasarkan temuan penelitian secara menyeluruh.
Mengawali Karier dari Dunia Kewirausahaan
Sebelum memasuki pemerintahan, Rai Mantra aktif dalam organisasi pengusaha. Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk berinteraksi dengan pelaku usaha, memahami dinamika ekonomi, serta membangun jejaring organisasi.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua BPC HIPMI Badung periode 1991–1994, Wakil Ketua BPD HIPMI Bali periode 1997–2000, Ketua II HIPMI Bali periode 2000–2003, dan Ketua Umum HIPMI Bali periode 2004–2007.
Selain itu, ia tercatat sebagai Komite Tetap Dana dan Sarana KADIN Bali periode 2004–2008.
Rangkaian pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan sebelum dirinya dipercaya memasuki pemerintahan. Dunia usaha dan organisasi pengusaha mempertemukannya dengan persoalan produktivitas, pengembangan usaha, peluang ekonomi, serta kebutuhan menciptakan iklim yang mendukung pertumbuhan masyarakat.
Pengalaman ini juga relevan ketika membicarakan ekonomi kreatif, yakni sektor yang mengandalkan gagasan, keterampilan, seni, budaya, dan kreativitas sebagai sumber nilai ekonomi.
Memimpin Denpasar Selama Lebih dari Satu Dekade
Karier pemerintahan Rai Mantra dimulai pada 2005 ketika ia dipercaya menjabat Wakil Wali Kota Denpasar mendampingi Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.
Pada 2008, ia melanjutkan kepemimpinan sebagai Wali Kota Denpasar setelah Puspayoga meninggalkan jabatan tersebut untuk mengikuti kontestasi politik tingkat provinsi.
Dalam pemilihan kepala daerah berikutnya, Rai Mantra berpasangan dengan I Gusti Ngurah Jaya Negara. Keduanya memenangkan pemilihan dan memimpin Denpasar pada periode 2010–2015, kemudian kembali terpilih untuk periode 2016–2021.
Masa kepemimpinannya berlangsung di tengah perkembangan Denpasar sebagai ibu kota Provinsi Bali. Kota ini menghadapi beragam kebutuhan, mulai dari pelayanan publik, pengelolaan perkotaan, pertumbuhan penduduk, lingkungan, hingga pelestarian budaya di tengah modernisasi.
Dalam situasi tersebut, tantangan pemerintah kota bukan hanya mempercepat pembangunan fisik, tetapi juga menjaga agar perkembangan kota tetap berpijak pada karakter sosial dan budaya masyarakat Bali.
Gagasan mengenai kota kreatif berwawasan budaya menjadi salah satu pendekatan yang menonjol dalam rekam jejak pemerintahannya.
Dharma Negara Alaya: Mempertemukan Seni, Budaya, dan Kreativitas
Salah satu program yang menandai pendekatan pembangunan berbasis kebudayaan di Denpasar adalah pengembangan Dharma Negara Alaya (DNA), yang diresmikan pada 27 Desember 2019.
DNA dirancang sebagai ruang pengembangan kebudayaan, seni, pendidikan, kreativitas, dan aktivitas masyarakat. Kehadirannya mencerminkan upaya menyediakan ruang yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi, tetapi juga membuka kesempatan bagi lahirnya gagasan dan karya baru.
Dalam pembangunan kota, ruang kebudayaan memiliki arti penting. Seniman membutuhkan tempat untuk berkarya, generasi muda memerlukan ruang berekspresi, sementara masyarakat membutuhkan akses untuk mengenal dan mengembangkan warisan budaya mereka.
Apabila dikelola secara berkelanjutan, ruang semacam ini dapat mempertemukan berbagai kelompok masyarakat, memperluas akses terhadap kegiatan seni, dan mendukung tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif.
Tantangannya adalah memastikan ruang budaya tidak berhenti sebagai bangunan atau simbol program. Manfaatnya perlu terus diukur melalui aktivitas yang berlangsung, partisipasi masyarakat, kualitas karya yang dihasilkan, dan keberlanjutan pengelolaannya.
Digitalisasi Pelayanan Publik dan Penguatan Budaya Lokal
Selain kebudayaan, pelayanan publik menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan Denpasar.
Pemerintah Kota Denpasar mengembangkan Pro Denpasar Plus sebagai sarana pengaduan dan penyampaian informasi masyarakat. Pemanfaatan teknologi ini merupakan bagian dari upaya membuka jalur komunikasi antara pemerintah dan warga.
Melalui mekanisme pengaduan publik, masyarakat memiliki kesempatan untuk menyampaikan persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Di sisi lain, efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan tindak lanjut, koordinasi antarlembaga, dan keterbukaan informasi mengenai penyelesaian laporan.
Dalam bidang kebudayaan, berbagai upaya juga diarahkan pada pendataan objek budaya, inventarisasi cagar budaya, pelestarian warisan budaya takbenda, serta penguatan kegiatan seni dan kreativitas lokal.
Langkah-langkah tersebut penting karena warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan atau benda bersejarah. Bahasa, sastra, aksara, seni pertunjukan, pengetahuan tradisional, dan praktik sosial masyarakat juga merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga.
Pelestarian membutuhkan dokumentasi, pewarisan pengetahuan, keterlibatan generasi muda, serta dukungan terhadap para pelaku budaya yang menjaga tradisi tetap hidup.
Kebudayaan sebagai Sumber Kekuatan Ekonomi
Salah satu gagasan yang relevan dalam membaca perjalanan Rai Mantra adalah hubungan antara kebudayaan dan ekonomi kreatif.
Kebudayaan kerap dipahami sebagai identitas yang harus dijaga agar tidak hilang akibat perubahan zaman. Namun, kebudayaan juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi penciptaan karya, pengembangan usaha, dan pembukaan peluang ekonomi.
Pendekatan ekonomi kreatif, termasuk konsep orange economy, menempatkan kreativitas, seni, budaya, dan kekayaan intelektual sebagai unsur penting dalam penciptaan nilai ekonomi.
Dalam konteks Bali, potensi tersebut dapat terlihat pada seni pertunjukan, kerajinan, desain, sastra, fesyen, arsitektur, hingga berbagai produk yang terinspirasi dari kekayaan tradisi lokal.
Meski demikian, mengembangkan kebudayaan menjadi kekuatan ekonomi harus dilakukan dengan kehati-hatian. Pelestarian tidak boleh menghilangkan makna tradisi, mengabaikan hak para pelaku budaya, atau menjadikan warisan leluhur sekadar komoditas.
Pembangunan yang berwawasan budaya idealnya menciptakan keseimbangan: tradisi tetap dihormati, masyarakat memperoleh manfaat, dan generasi muda memiliki ruang untuk berinovasi.
Dalam kerangka itulah gagasan kota kreatif berwawasan budaya menjadi relevan bagi Denpasar dan daerah lain di Bali.
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2021
Perhatian terhadap kebudayaan selama kepemimpinan Rai Mantra juga memperoleh pengakuan melalui Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2021 dalam rangka Hari Pers Nasional.
Penghargaan tersebut berkaitan dengan kebijakan dan upaya penguatan kebudayaan di Kota Denpasar, termasuk pengembangan Dharma Negara Alaya, inventarisasi warisan budaya, serta upaya menghubungkan kebudayaan dengan ekonomi kreatif.
Penghargaan menjadi salah satu catatan dalam perjalanan kepemimpinannya. Namun, ukuran penting dari sebuah kebijakan kebudayaan tetap terletak pada manfaat yang dirasakan masyarakat, kesinambungan program, dan kemampuannya melahirkan ekosistem budaya yang sehat.
Dengan demikian, penghargaan dapat dibaca sebagai bentuk pengakuan atas suatu pendekatan, sekaligus pengingat bahwa pelestarian budaya merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Melangkah ke Senayan, Membawa Pengalaman Daerah
Setelah menyelesaikan masa jabatan sebagai Wali Kota Denpasar pada 2021, Rai Mantra kembali melanjutkan perjalanan politiknya melalui pemilihan umum.
Pada Pemilu 2024, ia terpilih sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Bali untuk masa jabatan 2024–2029.
Peralihan dari pemerintahan kota ke lembaga perwakilan di tingkat nasional menghadirkan ruang pengabdian yang berbeda. Jika wali kota berhadapan langsung dengan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat di daerah, anggota DPD RI memiliki peran dalam menyuarakan kepentingan daerah di tingkat nasional sesuai kewenangan konstitusionalnya.
Pengalaman panjang memimpin Denpasar dapat menjadi bekal dalam memahami persoalan pembangunan perkotaan, kebudayaan, ekonomi masyarakat, dan kebutuhan daerah. Namun, efektivitas pengabdian di Senayan tetap perlu dinilai melalui kerja nyata, aspirasi yang diperjuangkan, serta hasil yang memberikan manfaat bagi masyarakat Bali.
Bagi seorang wakil daerah, tantangan utamanya bukan sekadar membawa nama Bali ke tingkat nasional, melainkan memastikan kepentingan masyarakat daerah memperoleh perhatian dalam proses pengambilan kebijakan.
Penutup: Modernisasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Perjalanan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra memperlihatkan pertemuan sejumlah bidang yang saling berkaitan: kewirausahaan, organisasi, pendidikan, pemerintahan, kebudayaan, dan politik nasional.
Pengalamannya memimpin Denpasar selama lebih dari satu dekade menempatkan gagasan kota kreatif berwawasan budaya sebagai salah satu bagian penting dari rekam jejaknya.
Setiap kepemimpinan tentu memiliki capaian, tantangan, dan aspek yang perlu dievaluasi secara objektif. Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya program atau penghargaan yang diperoleh, tetapi juga dari dampak nyata, pemerataan manfaat, kualitas pelayanan, dan keberlanjutan kebijakan.
Namun, satu pelajaran penting dari pendekatan pembangunan berbasis budaya adalah bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan akar tradisi.
Sebuah kota dapat tumbuh menjadi lebih modern tanpa kehilangan identitasnya. Kebudayaan dapat terus hidup sekaligus membuka ruang bagi pendidikan, kreativitas, dan peluang ekonomi baru.
Pada akhirnya, pembangunan yang bermakna bukan hanya tentang seberapa jauh sebuah daerah bergerak maju, melainkan juga tentang bagaimana masyarakatnya tetap mengenali jati diri, menghormati warisan leluhur, dan mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya. Sumber (Desa Semart)
(Tim Newsyess)